Tukang Becak Banting Tulang Kuliahkan Anak, Balasan Putrinya Sungguh Menyayat Hati

Tukang Becak Banting Tulang Kuliahkan Anak, Balasan Putrinya Sungguh Menyayat Hati


SOROT mata lelaki tua itu begitu teduh namun mendalam. Tatatapannya lurus menerobos kerumunan orang yang berjalan di sepanjang trestel pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang.
Keramaian orang yang datang dan pergi silih-berganti seakan tidak mengusiknya, dia tetap mengayuh becaknya.
Jari-jarinya yang mulai keriput mencengkram palang besi yang kerap dipakainya sebagai kemudi. Kulit lengan itu tampak legam karena terpanggang begitu lama di bawah terik matahari.
Sepasang kakinya yang dekil kokoh di atas sandal jepit yang kumal. Kaki itu mengayuh kendaraan roda tiga ini dengan ritmenya sendiri.
Kadang dia mengayuh sesaat, membiarkannya meluncurkan sendiri, lalu mengayuh lagi. Begitulah keseharian Suparmo (68), tukang becak pelabuhan dengan ciri khas topi milik anak SD.
Topi itu tidak pernah lepas dari kepala Suparmo setiap kali dia mengangkut barang penumpang dari pelabuhan. Ketika menyusuri jalan-jalan di pasar dan pelantar, topi ini selalu setia menjadi pelindung kepala di bawah terik matahari.
“Topi ini ibarat jimat keberuntungan buat saya,” ucapnya dengan suara berat.
Siapa pernah menyangka, topi ini sudah dia pakai sejak 46 tahun silam. Beberapa kali topinya dia ganti karena bentuknya sudah lusuh, hilang, ataupun tidak layak pakai lagi.
“Pokoknya topi SD ini penuh sejarah,” celetuknya lagi.
Dia mengenang, ketika mulai merantau ke Tanjungpinang, dia masih berumur 15 tahun. Rasa bangga sebagai lulusan SD membuatnya tidak sungkan-sungkan memakai topi ini.
Berbagai pekerjaan dia tekuni sebelum mengayuh becak di pelabuhan, mulai dari mencari kayu bakar, menjual es keliling dan menjual kue.
Hasil jualannya dia tabung kemudian dia gunakan untuk membeli becak. Suparmo sudah memiliki becak sendiri seharga Rp 1 juta pada tahun 1971 silam.
Dia pun mulai menjadi tukang becak. Sejak saat itu, ciri khas topi SD kian lekat menjadi identitasnya. Dia ingin, dengan topi SD, dirinya berbeda dari tukang becak yang lain dan mudah dikenali orang-orang di sekitar.
“Selain sifat kita yang ramah, santun dan jujur, topi SD ini juga jadi pemikat hati para pelanggan,” ujarnya polos.
Dari topi ini, banyak orang mengenal Suparmo. Bahkan banyak juga yang berasal dari luar kota. Kalau hendak memesan becak, mereka pasti mencari cari becak ‘Pak Parmo topi SD’.
“Di pasar dan satu pelabuhan, orang sudah hafal,” akunya sambil mengetik nomor pelanggan di telepon seluler yang sudah pecah, penuh tempelan isolasi dan ikatan karet getah.
Namun, tidak semua orang menaruh rasa simpatik pada lelaki tua ini. Dia juga berulang kali harus merasakan pahit, getir dan kerasnya bekerja di pelabuhan.
Kadang ketika ada pelanggan yang mencarinya, sesama tukang becak kerap mengatakan Suparmo sudah pulang. Padahal dia sendiri berada tidak jauh dari situ.
“Saya juga pernah salah menaruh barang pelanggan ke kapal lain. Saya harus ganti rugi,” ujarnya seraya menggelengkan kepala.
Kendatipun demikian, Suparmo tetap menjalani pakerjaan dengan penuh rasa syukur. Dia biasanya dibayar Rp 30 ribu untuk sebungkus barang. Dia malah ikhlas dikasih berapa saja.
Dia tidak mematok harga. Kalaupun dibayar lebih, dia bersyukur; dikasih kurang juga dia tidak menggerutu.
Kasih ambil, tak dikasih sudah, nanti baru ditabung di sini,” ujarnya sambil tersenyum menunjukkan plastik transparan pembungkus gula.
Plastik itu sudah beralih fungsi sebagai dompet. Ada sejumlah uang, KTP dan kertas-kertas catatan kecil nan lusuh ada di dalamnya.
Plastik inipun menjadi saksi bisu betapa kerja keras Suparmo telah berhasil menyekolahkan empat anaknya. Bahkan tiga di antaranya sudah menjadi sarjana.
Bersama istri dan anak-anaknya, Suparmo tinggal di jalan Cempedak Kelurahan Kampung Baru, Tanjungpinang. Meskipun hanya menjadi tukang becak dia berprinsip anak-anaknya kelak tidak boleh bernasib sama seperti dirinya.
Acapkali dia malu pada anak-anaknya yang mempunyai ayah tukang becak pelabuhan. Rasa malu itulah mendorongnya mati-matian menyekolahkan mereka menjadi sarjana.
Suparmo tahu betul menjadi tukang becak bukanlah sesuatu yang bisa dia banggakan. Anak-anak kerap menerima ejekan dari kawan-kawannya mengenai pekerjaan ayahnya.
Dia sedih mendengar cerita anaknya tentang ejekan ini. Tetapi itu tidak lalu melunturkan semangatnya bekerja sebagai tukang becak.
Namun, ada lagi yang membuatnya begitu sedih. Dia akhirnya tahu kalau anaknya tidak pernah mengakui pekerjaan ayahnya kepada kawannya.
Dia baru sadar akan hal itu saat calon menantunya datang membawa antaran untuk pernikahan anaknya. Sang menentu terkejut kalau mertuanya itu seorang tukang becak.
“Anak saya tak pernah ceritakan saya ke orang. Mungkin mereka malu,” ucapnya sambil tertawa namun mata berkaca-kaca.
Walaupun demikian, tak terselip sekalipun rasa benci ataupun dendam dalam hatinya. Dia mengaku sangat bangga pada anak-anaknya yang telah mempu menyelesaikan bangku kuliah.
“Saya merasa senang dan lega. Anak-anak sudah lulus kuliah, sekarang yang saya ingin Umroh ke tanah suci. Insyaallah kalau ada rezeki,” tuturnya dengan suara datar.
Dia lalu duduk termenung dengan tatapan kosong. Sesekali dia memeriksa catatan yang dia punya di atas kardus lusuh bekas kemasan rokok.
Beberapa nomor telepon dan alamat pelanggan tertera di atasnya. Dengan jari telunjuk, dia mengecek daftar barang yang harus dia jemput. Sebenar lagi, jatah untuk mengantar barang pelanggan sudah jatuh lagi pada nomor antreannya. (Zee)
(Sumber: Tribun Batam)
If you are planning for a holiday in Paris, what you must never miss is the experience of staying in one of their hotels. Most of the hotels in Paris offer luxurious comfort and stylish elegance for those seeking a relaxing accommodation. Being in Paris is an experience you will never forget and the best way to enhance your stay in the city is by booking an accommodation on one of its hotels that can guarantee you a comfortable lodging with all the amenities, facilities, and quality service you can afford. Paris, as city known for its romantic ambiance, numerous art galleries, breathtaking historical sites, diverse cultures and traditions, trendy fashion, and sumptuous cuisines, is one of the hottest tourist hotspots in the world with millions of tourists visiting the city all year round. Also famous in this city are its hotels know for offering comfort and luxury to every visitors wanting to experience the real Parisian living. The best way to experience comfort offered by luxury hotels is at the Courtyard Paris Hotel at Neuilly Sur Seine, an upscale hotel managed by the Marriott with 242 guestrooms located in the quiet residential neighborhood of Neuilly Sur Seine in close proximity to downtown Paris. The Courtyard Hotel Neuilly Seine has a convenient access to the main attractions and monuments in the city including the famous Avenue des Champs Elysees, Arc de Triomphe, Eiffel Tower, Louvre Museum, Montmartre and Notre Dame de Paris cathedral. It is also about ten minutes away from the congress center of Paris. With 69 spacious suites, the Courtyard is ideal for travelers planning a longer stay in the city and for families on a Parisian holiday. For a traditional French cuisine, visitors can enjoy the sumptuous feast offered by the hotel restaurant, Brasserie Victor Hugo which is open 7 days a week to cater to the appetites of hotel guests wanting to experience the delectable taste of French cookery. The hotel also has an in house bar and lounge perfect for a relaxation after a tiring day of visiting places where you can enjoy a quiet sip of your favorite drink. For business travelers, the hotel also offers 20 spacious conference rooms with all the modern amenities ideal for any kinds of business gathering and private functions. They have high speed internet access and visitors have free access to the in house fitness center for a quick exercise. Paris luxury hotels are well known for its quality service and efficient manpower. With great decorations designed for comfort and functionality plus the luxurious facilities, a stay at the Courtyard Paris Hotel at Neuilly Sur Seine is surely an experience to relish. Within a quiet neighborhood away from the hustle and bustle of a busy city, you can certainly enjoy a very peaceful and relaxing stay at the Courtyard where you can experience all the glory of Paris at the comfort of your own room. Although this hotel is not particularly located at the heart of the city, it offers great access to various tourist attractions within Paris. John is an experienced traveler and loves his Paris vacations. To learn more about Paris vacations as well as Hotel Neuilly Seine [http://www.parishotelsadvice.com/hotel-neuilly-seine/] check out his vacation website on http://www.parishotelsadvice.com Article Source: http://EzineArticles.com/expert/John_Smitth/507303 Article Source: http://EzineArticles.com/3833770

BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3