Ketika Manusia Disilangkan dengan Tikus, Monyet, dan Babi

 


Uji coba untuk menciptakan kawin silang antara manusia dan hewan memang kerap mengundang kontroversi. Namun, ini tidak menghentikan para ilmuwan menguji coba.

Contoh di bawah ini bahkan dilakukan demi transplantasi organ untuk kebutuhan medis manusia. Apa saja hybrid manusia - hewan yang pernah viral? Cek di sini:

1. Chimera manusia-tikus

Para ilmuwan telah menciptakan embrio tikus yang memiliki sebagian bagian dari manusia, tepatnya 4% sebagaimana melansir CNN.

Hybrid inilah yang oleh para ilmuwan disebut chimera manusia-hewan -- organisme tunggal yang terdiri dari dua set sel berbeda -- dalam hal ini, embrio tikus yang memiliki sel tikus dan sel manusia.

Chimera manusia-tikus ini memiliki jumlah sel manusia tertinggi yang pernah tercatat pada hewan, menurut para peneliti. Eksperimen mereka menunjukkan banyak jenis sel manusia dapat dihasilkan dalam embrio tikus, dan dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada embrio manusia.

Tujuannya adalah membawa potensi yang sangat besar untuk pengobatan penyakit manusia, bahkan mungkin COVID-19. Peneliti dari State University of New York di Buffalo dan Roswell Park Comprehensive Cancer Center mempublikasikan temuan tersebut di jurnal Science Advances.


2. Hybrid monyet-manusia

China melakukan uji coba untuk membuat hybrid manusia-monyet pada 2019. Tujuannya sama dengan penelitian yang disebut sebelumnya, untuk transplantasi organ pada manusia.

Sel punca manusia yang mampu menciptakan semua jenis jaringan disuntikkan ke dalam embrio monyet. Terlepas dari etis atau tidaknya, percobaan dihentikan sebelum embrio cukup besar untuk dilahirkan, dikutip dari Africa Check.


3. Hybrid manusia-babi

Jun Wu, ilmuwan Salk Institute dan penulis pertama makalah mengatakan bahwa mereka melewati trial and error untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Secara keseluruhan, tim tersebut menciptakan 186 embrio chimeric.

"Kami memperkirakan (masing-masing memiliki kemungkinan) sekitar satu dari 100.000 sel manusia," ucapnya dilansir National Geographic.

Persentase ini terbilang rendah dan ini bisa menimbulkan masalah dalam jangka panjang, kata Ke Cheng, pakar sel punca di North Carolina University di Chapel Hill.

Apalagi jaringan manusia tampaknya memperlambat pertumbuhan embrio, catat Cheng, dan organ yang tumbuh dari embrio yang berkembang kemungkinan besar akan ditolak oleh manusia, karena mengandung begitu banyak jaringan babi.

Langkah besar berikutnya, kata Cheng, adalah mencari tahu apakah mungkin untuk meningkatkan jumlah sel manusia yang dapat ditoleransi oleh embrio. Metode saat ini adalah permulaan, tetapi masih belum jelas apakah rintangan itu dapat diatasi.

LihatTutupKomentar