Kisah Nenek Juma Korban Gempa Sulbar, Susah Jalan Gegara Kaki Tertimpa Batu

Kisah Nenek Juma Korban Gempa Sulbar, Susah Jalan Gegara Kaki Tertimpa Batu

 

Kisah Nenek Juma Korban Gempa Sulbar, Susah Jalan Gegara Kaki Tertimpa Batu



Kisah Nenek Juma Korban Gempa Sulbar, Susah Jalan Gegara Kaki Tertimpa Batu

Suara.com - Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin peribahasa tersebut cukup menggambarkan kisah Juma, perempuan berumur 60 tahun di Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Kisah Juma, berawal pada saat jurnalis Suara.com berkesempatan menengok salah satu posko pengungsian di wilayah Botteng Utara, Simboro, Mamuju pada 29 Januari 2021.

Desa tersebut merupakan salah satu wilayah terparah terdampak gempa bumi dahsyat berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Kabupaten Mamuju dan Majene pada 15 Januari lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Kepala Desa Botteng Utara, Syahril, menyebut 90 persen kerusakan rumah warga terjadi di wilayahnya. Sejumlah orang dikabarkan luka-luka dengan 1 orang anak di bawah umur menjadi korban jiwa.

Korban gempa di Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat mengungsi. (Suara.com/Bagaskara)

Dengan data tersebut cukup menggambar bagaimana menderitanya para warga yang tinggal di wilayah Botteng Utara. Mereka terpaksa tinggal mengungsi di posko darurat beratapkan terpal di hamparan lapangan.

Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Juma. Umurnya sudah rentan, berjalan pun kesulitan. Tak ayal hal tersebut membuat saya tertarik mengunjungi tenda pengungsian yang ditempati oleh perempuan lanjut usia tersebut.

Juma tak hanya sendiri di tenda tersebut, iya menempati tempat tidur sementara tersebut bersama dengan 9 orang lainnya. Kala dikunjungi, Juma dan keluarga hangat berkumpul menyantap makan malam dengan menu seadanya.

Mereka tampak lahap meski hanya diterangi satu buah lampu putih terang menggantung di tengah topangan kayu tenda. Sekilas tak ada yang berbeda ketika menyaksikan keluarga tersebut berkumpul menyantap makan malamnya.

Sampai pada akhirnya, proses makan malam bersama selesai. Satu persatu keluarga Juma keluar dari tenda, hanya untuk sekedar cari angin atau udara segar. Termasuk Udin (45), menantu Juma.

Keanehan pun terjadi kala saya melihat Juma hanya bisa bergeser untuk pindah ke satu tempat ke tempat lainnya. Juma hanya berjalan merangkak. Bokong dengan papan --yang menjadi alas pengungsian-- tampak beradu.

Sumber : https://www.suara.com/news/2021/02/02/193829/kisah-nenek-juma-korban-gempa-sulbar-susah-jalan-gegara-kaki-tertimpa-batu


BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3