Teori TNI AL: KRI Nanggala tenggelam mungkin faktor alam, ada internal wave prajurit tak bisa…

 

Teori TNI AL: KRI Nanggala tenggelam mungkin faktor alam, ada internal wave prajurit tak bisa…

TNI AL menegaskan biang tenggelamnya KRI Nanggala mungkin faktor alam. Hal ini menjawab banyak spekulasi soal biang tenggelamnya Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Nanggala 402, baik yang disampaikan oleh pengamat dari sudut pandang pribadi maupun yang beredar di media sosial.

Munculnya spekulasi itu dikhawatirkan menimbulkan bisa rancu dan simpang siur soal biang tenggelamnya KRI Nanggala, makanya TNI AL menegaskan kapal selam tersebut kemungkinan tenggelam karena faktor alam.

Biang KRI Nanggala itu faktor alam

Nanggala
KRI Nanggala 402 bersama KRI Sutedi Senoputera 878

Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Laksda Muhammad Ali mengatakan pada saat kapal selam menyelam, yang paling berpengaruh adalah faktor arus bawah laut yang berbeda tergantung kondisinya sehingga awak kapal selam sebelum beroperasi mereka melihat panduan untuk menyampaikan kondisi daerah tersebut seperti faktor oseanografi maupun hidrografi.

“Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave, yang berdasarkan informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, itu ada arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal. Jadi jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya dan ini yang harus diwaspadai”, kata Laksda Muhammad Ali dikutip dari laman TNI AL, Rabu 28 April 2021.

Senada dengan hal tersebut, Senada Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Danseskoal), Laksamana Muda TNI Iwan Isnurwanto mengatakan, di perairan utara Bali menurut satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa, pada tanggal 21 April atau tanggal 20 UTC, terjadi internal wave yang bergerak dari bawah ke utara.

“Kalau kita terkena Internal Wave, maka itu adalah kehendak alam tentunya para prajurit tidak bisa melakukan peran kedaruratan walaupun mereka sudah siap berada di pos tempurnya masing-masing,” jelasnya.

Mengenai gelombang internal di kedalaman laut, sebelumnya pakar oseanografi Universitas Maryland Amerika Serikat, Dwi Susanto menduga kapal selam Nanggala terseret gelombang internal yang ada di kedalaman laut Bali.

Dwi Susanto mengatakan skenario Nanggala terseret gelombang besar bawah laut ini terkonfirmasi dengan data Satelit Himawari, yang selama ini dipakai oleh BMKG.

Satelit tersebut menunjukan citra danaya gelombang besar di dalam laut pada waktu kejadian Nanggala dilaporkan hilang.

Makanya dengan dasar citra tersebut, Dwi Susanto yakin kapal selam Nanggala terseret atau tertarik gelombang dalam atau gelombang internal.

“Dugaan saya jelas, terjadi pas waktu kejadian ada citra ada gelombang internal. Dengan kecepatan gelombang dalam itu 2 meter per detik, tapi kita asumsikan kapal selam kan ada berat, maka gelombang dalam bergerak 1 meter per detik dan sekarang sudah 72 jam berlalu, artinya kepal selam itu posisinya 260 km dari posisi awal,” jelas Dwi di Breaking News Metro TV, Sabtu 24 April 2021.

Bukan overload

Konferensi pers TNI AL
Konferensi pers TNI AL. Foto TNI AL

Asrena Kasal juga membantah musibah KRI Nanggala terjadi akibat kelebihan penumpang. Teori ini sangat tidak berdasar sekali.

Saat menyelam kemarin, KRI Nanggala justri tidak kelebihan muatan. Jumlah 53 awak itu jauh dari ketentuan maksimal 57 awak. Belum lagi soal yang lainnya

“Sangat tidak tepat, salah dan tidak berdasar. Berbagai operasi yang kita lakukan membawa 50 orang penumpang, kalau operasi penyusupan kita membawahi plus satu regu pasukan khusus sekitar 7 orang, jadi sekitar 57 orang, sedangkan pada saat kejadian tragedi KRI Nanggala-402 hanya membawa 53 orang,” jelas Laksda Muhammad Ali.

Selain itu pada saat kejadian, KRI Nanggala hanya membawa 3 buah torpedo padahal kapal selam ini didesign untuk membawa 8 buah torpedo dengan berat masing-masing 2 ton.

Dia mengatakan, setiap Kepala Kamar Mesin (KKM) pasti akan menghitung berapa personel yang akan dibawa dikaitkan dengan jumlah muatan yang akan dibawa, seperti berapa torpedo, amunisi dan lain-lain, tambahnya.

Bantahan yang sama juga disampaikan Komandan Seskoal, kapal selam ini sesuai Daftar Susunan Personel (DSP) adalah 50 orang bahkan masih bisa ditambahkan penumpang dengan catatan memiliki peralatan untuk escape.

Sumber : https://www.hops.id/teori-tni-al-kri-nanggala-tenggelam-mungkin-faktor-alam-ada-internal-wave-prajurit-tak-bisa/

LihatTutupKomentar