Terkuak, ini alasan logis 53 awak tak keluar saat KRI Nanggala tenggelam

 

Terkuak, ini alasan logis 53 awak tak keluar saat KRI Nanggala tenggelam

Sebagian masyarakat—terutama yang berasal dari kalangan awam—mungkin bertanya-tanya: mengapa saat kapal selam Nanggala menunjukkan tanda-tanda bahaya, seluruh awak tidak berusaha keluar? Ternyata ada alasan logisnya.

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sejumlah fakta atau keterangan yang mesti diketahui. Misalnya, bagaimana kondisi terakhir kapal saat dinyatakan dalam kondisi bahaya?

“Kenapa para awak tidak keluar menyelamatkan diri? Pertama, kita sampai hari ini belum tahu persis apa yang terjadi pada kapal ini, sehingga kemudian tenggelam. Kefatalan bisa saja sudah terjadi sejak awal, ketika komando operasi menyadari bahwa komunikasi dengan kapal telah terputus,” ujar Fahmi, dikutip Minggu, 25 April 2021.

Kapal selam KRI 402. Foto: TNI AL.
Kapal selam KRI 402. Foto: TNI AL.

Sikap tanggung jawab para prajurit untuk menangani sejumlah kejadian, disebut Fahmi, jadi alasan kedua mengapa para prajurit memilih tidak menyelamatkan diri.

Para awak kapal KRI Nanggala merupakan prajurit dengan keterampilan dan keahlian yang disiapkan untuk mampu mengendalikan kapal bahkan dalam keadaan darurat, gangguan, atau bahaya dalam pelayaran.

Sehingga, saat dihadapkan pada kondisi tersebut, upaya penanganan menjadi salah satu langkah yang diambil para prajurit ketimbang keluar menyelamatkan diri.

“Artinya, yang menjadi prioritas adalah mengatasi kedaruratan atau gangguan tersebut. Mereka punya waktu sepanjang cadangan oksigen masih tersedia untuk kemudian kembali ke pangkalan dengan selamat,” urainya.

Lagipula, menurut dia, keluar dari kapal selam dan menjangkau permukaan laut merupakan ide gila yang mustahil diambil. Seandainya hanya berjarak sekian meter, kata dia, mungkin masih bisa. Namun, faktanya KRI Nanggala sudah terperosok ke kedalaman 800 meter lebih.

“Jadi jangan berandai-andai jika awak KRI Nanggala di kedalaman 700-850 meter berusahan keluar dan berenang ke permukaan, maka ada peluang selamat. Itu hampir mustahil. Baru sampai pada upaya membuka pintu kompartemen penyelamat saja, sudah sangat fatal,” tegasnya.

Alasan logis lain awak Nanggala tidak keluar dari kapal

Tim Combat Diver Kopaska menyelam bersama KRI Nanggala 402
Tim Combat Diver Kopaska menyelam bersama KRI Nanggala 402

Disitat dari Kumparan, Fahmi menambahkan, kapal selam memang didesain sangat presisi lantaran harus menghadapi tekanan bawah laut yang tinggi. Membuka katup untuk menyelamatkan diri keluar, menurutnya, juga jadi opsi yang tak mungkin diambil prajurit.

“Jika katup dibuka, air akan dengan cepat membanjiri kapal dan mengakibatkan kefatalan. Apalagi di kedalaman, tekanan hidrostatis sangat tinggi, di atas ambang toleransi manusia hingga tingkat yang menghancurkan.”

“Makanya jika situasi tidak mampu diatasi sendiri, maka kapal selam mengandalkan penanganan eksternal untuk mengatasi masalah atau penyelamatan,” kata dia.

Sumber : https://www.hops.id/terkuak-ini-alasan-logis-53-awak-tak-keluar-saat-kri-nanggala-tenggelam/

LihatTutupKomentar