Kiai NU sebut wanita haid boleh berpuasa, bagaimana hukumnya?

 

Kiai NU sebut wanita haid boleh berpuasa, bagaimana hukumnya?

Wanita haid bolehkah berpuasa?

Umum dipahami bahwa wanita yang sedang mengalami menstruasi atau haid tidak diperbolehkan menjalankan ibadah puasa.

Namun seorang Kiai NU KH Imam Nakhai mengatakan wanita haid tetap boleh berpuasa. Hal itu ia katakan karena di dalam alquran dan hadist tidak ada larangan untuk menjalankan rukun Islan tersebut.

“Pandangan saya membolehkan wanita haid berpuasa didasarkan pada tiga alasan: Pertama, dalam Al Qur’an tidak ada satu ayat pun yang melarang perempuan Haid untuk puasa,” ujarnya dilansir laman Suara Nasional Senin 3 Mei 2021.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam ayat soal haid hanya dijelaskan bahwa dua hal, yaitu soal berhubungan seks dan status yang tidak suci.

“Ayat yang menjelaskan tentang Haid hanya menegaskan dua hal, bahwa
melakukan hubungan seks dengan penetrasi hukumnya haram. Yang kedua perempuan haid berada dalam keadaan tidak suci,” katanya.

Ia menyatakan bahwa wanita yang ‘tidak suci’ hanya dilarang melakukan ibadah yang mensaratkan suci seperti salat dan sejenisnya. “Sementara puasa tidak disyaratkan suci, yang penting ‘mampu’ melakukannya,” ujarnya.

Alasan kedua, perempuan yang haid lebih mirip disebut sebagai orang yang sakit (Al Qur’an menyebutnya adza).

Ilustrasi puasa
Ilustrasi puasa. Photo: Pixabay

Sebagaimana penjelasan Alquran bahwa orang sakit dan orang yang dalam perjalanan diberi dispensasi (rukhshah) antara menjalankan puasa atau meninggalkannya dengan mengganti di hari yang lain.

“Maka perempuan haid seharusnya juga mendapat “rukhshah” antara melakukan puasa dan tidak. Jika perempuan memilih melakukannya karena haidnya tidak mengganggu kesehatannya, maka boleh,” jelasnya.

Ilustrasi nyeri saat menstruasi. Foto: Freepik
Ilustrasi nyeri saat menstruasi. Foto: Freepik

Meski demikian ia juga memberi penjelasan bahwa ada hadist Nabi yang sepintas melarang perempuan haid berpuasa, namun hadis itu juga di pahami sebaliknya.

Penafsiran terhadap ayat dan hadist Nabi tentang perempuan haid dan puasa adalah bersifat ijtihadi, jadi kebenaran dalam masalah ini juga bersifat ijtihadi.

“Namun sudah ada ijma’di kalangan ulama. Sekalipun teks ijma’nya berbeda, Ada yang mengatakan bahwa yang ada di ijma adalah tidak adanya kewajiban puasa bagi haid dan kewajian mengganti. Dan ada yang menyatakan bahwa yang di Ijma’i adalah keharaman berpuasa bagi Haid,” ujarnya.

sumber : https://www.hops.id/kiai-nu-sebut-wanita-haid-boleh-berpuasa/

LihatTutupKomentar