Moeldoko blak-blakan ternyata sempat hidup susah, tanpa listrik dan lampu selama setahun

 

Moeldoko blak-blakan ternyata sempat hidup susah, tanpa listrik dan lampu selama setahun

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko baru-baru ini mengaku bahwa dirinya sempat hidup susah, bahkan dia sampai hidup setahun tanpa lampu.

Kesulitan dalam menjalani hidup sehari-hari tersebut dialami oleh Moeldoko sewaktu dia bertugas dalam operasi di Timor Timur yang kini sudah melepaskan diri dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Awalnya Moeldoko mengisahkan perihal tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan utara Bali. Dia menjelaskan, sewaktu masih menjadi Panglima TNI, Moeldoko pernah menghabiskan waktu bersama para awak KRI Nanggala-402

“Saya pernah bersama mereka (awak KRI Nanggala-402), pasti saya punya emosional yang sangat tinggi ya. Pada saat saya jadi Panglima TNI, saya mendapat brevet di kapal selam KRI Nanggala-402,” kata Moeldoko saat menghadiri acara Saatnya Perempuan Bicara, dikutip Hops pada Senin, 3 Mei 2021.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto: Antaranews
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto: Antaranews

Moeldoko mengungkapkan kondisi lingkungan ketika berada di dalam kapal selam KRI Nanggala-402 yang sempit dan sirkulasi oksigen minim. Namun lebih mencengangkannya lagi, para awak KRI Nanggala-402 harus rela bertugas di dalam kapal selam selama berminggu-minggu.

“Kalau teman-teman melihat, kehidupan mereka itu sungguh luar biasa. Itu menghadapi lingkungan kerja saja, ruangan sangat sempit, pengap, dan dia harus berminggu-minggu di dalam kapal dan tidak muncul ke permukaan, itu sebuah pekerjaan yang tidak mudah,” ujarnya.

Kemudian Moeldoko juga membicarakan soal gugurnya para awak KRI Nanggala-402 yang tenggelam saat bertugas. Sebagai mantan petinggi TNI, dia mengaku sangat sulit agi seorang pemimpin menghadapi situasi tersebut. Di mana, dia harus jujur mengungkapkan kepada para keluarga prajurit TNI yang gugur dalam bertugas.

“Bagi seorang pemimpin, persoalan yang paling sulit yang pernah saya hadapi, baik waktu saya mempimpin ke Timor Timur, kalau ada yang jatuh korban atau gugur saat operasi. Itu sebuah persoalan yang sangat tidak mudah, di mana kita harus menghadapi istri-istri mereka dan meyakinkan mereka bahwa suaminya gugur itu tidak mudah,” tuturnya.

Kisah Moeldoko hidup susah di lapangan karena bertugas

Moeldoko. Foto: Antaranews
Moeldoko. Foto: Antaranews

Lebih lanjut Moeldoko mengisahkan pengalamannya tatkala bertugas di Timor Timur. Dia harus rela berpisah dengan keluarganya dan hidup sulit di medan tempur.

Bahkan Moeldoko berujar, dia pernah hidup selama satu tahun lamanya tanpa alat penerangan.

“Itu saya waktu tugas di Timor Timur satu tahun enggak pernah lihat lampu. Satu tahun full di hutan, betul-betul bersama prajurit, terkena hujan, panas, puasa begini ya puasa,” jelas Moeldoko.

Mendapati kesaksian Moeldoko tersebut, salah satu pembawa acara pun heran dan bertanya soal komunikasi dengan keluarga yang menunggu di rumah, “terus bagaimana dengan kerinduan terhadap keluarga, dengan ketidakpastian seperti itu, lantas bagaimana itu pak cara mengatasinya?,”.

Mooeldoko mengaku saat dia masih jadi prajurit TNI memang sangat sulit untuk sekadar memberi kabar keluarga di rumah. Salah satu cara yang bisa dilakukannya ialah dengan mengirim surat melalui helikopter logistik yang memberikan bantuan pasukannya.

“Dulu itu cukup sulit berkomunikasi, paling hanya bisa dengan surat. Kalau sekarang kan sudah mudah berkomunikasi. Biasanya ada helikopter datang untuk droping logistik ya. Bersamaan dengan itu, surat-surat juga dikirimkan. Sampainya juga sekitar dua mingguan,” imbuhnya.

Sumber : https://www.hops.id/moeldoko-blak-blakan-ternyata-sempat-hidup-susah/

LihatTutupKomentar